Quo!

Terlalu banyak suara, bising!

Terlalu banyak amarah, pening!

Terlalu banyak prasangka, pusing!

Manusia-manusia itu, terlalu serakah!

Segala apa ingin dijejal ke dalam mulut sendiri. Segala apa ingin dijejal ke telinga orang lain

Di atas panggung dibuai materi, lupa diri!

Dibawah papan sibuk caci maki, sakit hati!

Tolong jangan tanya kontribusi! Karena kontestasi tak pernah pandang prestasi.

Tiap tahun mengucur harta, namun warna air sungai belum juga berubah, air mata masih bersimbah, tubuh dan hati makin terluka, rumah penduduk entah kemana.

Hati nurani lenyap tak tersisa

Manusia-manusia itu bak gugus ombak pasang. Sejenak dibawa angin hasrat, merusak segala apa, lalu mati, hilang tak berdaya.

Lupa kalau jam itu mundur ke kanan bukan ke kiri.

Para ayah berharap anak-anaknya sehat sejahtera, namun lupa kalau ayah-ayah yang lain juga sama.

1000 kali Mati terlalu murah untuk harga setiap nyawa yang sengaja di penggal, setiap umur yang habis untuk menangis, dan setiap harap yang dipangkas habis.

Terkutuklah para penista! Jilatilah setiap duri pohon neraka! Minumlah air nanah yang didih itu!

Biringkanaya 21 Januari 2022

Tinggalkan komentar